Selasa, 23 April 2013

PERKEMBANGAN EMBRIO ANAK AYAM



Pengetahuan tentang fertil dan tidaknya telur sangat diperlukan terutama di hatchery. Selain pengetahuan terhadap seleski fisik telur, kefertilan telur juga perlu diketahui. Seleksi fisik yang dapat dilakukan diantaranya kebersihan telur dari kotoran induknya, retak atau tidaknya telur serta bentuk ukuran telur (normal atau tidak). Namun terlepas dari hal tersebut tidak kalah pentingnya pengetahuan mengenai fertil/infertil telur dilihat dari dalam telurnya yang dapat dibandingkan sebagai berikut :





Berikut ini Perkembangan embrio dari hari ke hari.

1. Hari Pertama
Asal mula lempengan embrio pada tahap blastodermal. Nampak ada rongga segmentasi yang berada di bawah area pelucida,terdapat pada cincin yang berwarna lebih gelap dari sekitarnya.


2. Hari kedua
Nampak jalur pertama pada pusat blastoderm. Diantara extraembrionic annexis nampak membran vitelin yang memiliki peranan utama dalam nutrisi embrio.


3. Hari ketiga
Embrio berada di sisi kiri, dikelilingi oleh sistem peredaran darah, membram viteline menyebar di atas permukaan kuning telur. Kepala dan badan dapat dibedakan, demikian juga otak.Nampak juga struktur jantung yang mulai berdenyut.


4. Hari keempat
Perkembangan rongga amniotik, yang akan mengelilingi embrio,yang berisi cairan amniotik, berfungsi untuk melindungi embrio dan membolehkan embrio bergerak. Nampak gelembung alantois yang berperan utama dalam penyerapan kalsium,pernapasan dan tempat penyimpanan sisa-sisa.


5. Hari kelima
Peningkatan ukuran embrio, embrio membentuk huruf C, kepala bergerak mendekati ekor. Terjadi perkembangan sayap.


6. Hari keenam
Membram vetiline terus berkembang dan mengelilingi lebih dari separuh kuning telur. Fissura ada diantara jari kesatu, kedua dan ketiga dari anggota badan bagian atas dan antara jari kedua dan ketiga anggota badan bagian bawah. Jari kedua lebih panjang dari jari lain.


7. Hari ketujuh
Cairan yang makin mengencer di bagian leher. Nampak jelas memisahkan kepala dengan badannya. Terjadi pembentukan paruh. Otak nampak ada di daerah kepala, yang lebih kecil ukurannya dibanding dengan embrio.


8. Hari kedelapan
Membram vetillin menyelimuti (menutupi) hampir seluruh kuning telur. Pigmentasi pada mata mulai nampak. Bagian paruh atas dan bawah mulai terpisah, demikian juga dengan sayap dan kaki. Leher merenggang dan otak telah berada di dalam rongga kepala. Terjadi pembukaan indra pendengar bagian luar.


9. Hari kesembilan
Kuku mulai nampak, mulai tumbuh folikel bulu pertama.Alantois mulai berkembang dan meningkatnya pembuluh darah pada vitellus.


10. Hari kesepuluh
Lubang hidung masih sempit. Terjadi pertumbuhan kelopak mata, perluasan bagian distal anggota badan. Membran viteline mengelilingi kuning telur dengan sempurna. Folikel bulu mulai menutup bagian bawah anggota badan. Patuk paruh mulai nampak.


11. Hari kesebelas
Lubang palpebral memiliki bentuk elips yang cenderung menjadi encer. Alantois mencapai ukuran maksimal, sedangkan vitellus makin menyusut. Embrio sudah nampak seperti anak ayam.


12. Hari kedua belas
Folikel bulu mengelilingi bagian luar indera pendengar meatus dan menutupi kelopak mata bagian atas. Kelopak mata bagian bawah menutupi 2/3 atau bahkan ¼ bagian kornea.


13. Hari ketiga belas.
Alantois menyusut menjadi membran Chorioalantois. Kuku dan kaki mulai nampak jelas.


14. Hari keempat belas.
Bulu-bulu halus hampir menutupi seluruh tubuh dan berkembang dengan cepat.


15. Hari kelima belas dan enambelas.
Beberapa morfologi embrio berubah : anak ayam dan bulu halus terus berkembang. Vitellus menyusut cepat, putih telur mulai menghilang. Kepala bergerak ke arah kerabang telur (posisi pipping) di bawah sayap kanan.


16. Hari ketujuh belas
Sistem ginjal dari embrio mulai memproduksi urates (garam dari asam urat). Paruh yang berada di bagian bawah sayap kanan, menuju rongga udara (yang ada di dalam telur). Putih telur telah terserap semua.


17. Hari kedelapan belas
Permulaan internalisasi vitellin. Terjadi pengurangan cairan amniotik. Pada umur ini dilakukan transfer dari mesin setter (inkubtor) ke mesin hatcher dan juga bisa dilakukan vaksin in ovo.


18. Hari kesembilan belas.
Penyerapan vitellin secara cepat. Paruh mulai mematuk selaput/membran kerabang bagian dalam dan siap untuk menembusnya. Penyerapan vitelis mulai cepat


19. Hari kedua puluh
Vitelus terserap semua, menutup pusar (umbilicus). Anak ayam menembus selaput kerabang telur bagian dalam dan bernafas pada rongga udara. Pertukaran gas terjadi melalui kerabang telur. Anak ayam siap menetas dan mulai memecah kerabang telur.


20. Hari kedua puluh satu
Anak ayam menggunakan sayap sebagai pemandu dan kakinya memutar balik, paruh memecah kerabang dengan cara sirkular.


Anak ayam mulai melepaskan diri dari kerabang telur dalam
waktu 12 – 18 jam dan membiarkan bulunya menjadi kering.

  ORGAN REPRODUKSI JANTAN TERNAK

  ORGAN REPRODUKSI JANTAN TERNAK

Organ reproduksi ternak jantan tersiri dari testes, scrotum, corda spermaticus, kelenjar tambahan (glandula accessories), penis, preputium, dan system saluran reproduksi jantan. System saluran ini terdiri dari vasa, efferentia yang berlokasi di dalam testis, epididymis, vas deferens, dan urethra external yang bersambung ke penis. Pada masa ambrio, testis berasal dari corda genitalia primer, sedangkan system saluran reproduksi berasal dari ductus wolffii. Perhatikan diagram organ reproduksi jantan sebagaimana pada gambar di bawah ini:




Figure 3-1 Diagram of the reproductive system of the (a) bull; (b) ram; (c) boar; and (d) stallion.(Redrawn from Sorenson. 1979. Animal Reproduction: Principles and Practices. McGraw-Hill.)

TESTIS

Adalah organ reproduksi primer pada ternak jantan, karena berfungsi menghasilkan gamet jantan (spermatozoa) dan hormone kelamin jantan (androgens). Testes berlokasi di dekat ginjal turun melalui canalis inguinalis masuk ke dalam scrotum. Turunnya testes terjadi akibat memendeknya gubernaculum, sebuah ligamentum yang memanjang dari daerah inguinalis kemudian bertaut pada cauda epididymis. Pemendekan gubernaculum terjadi karena pertumbuhan gubernaculum tidak secepat pertumbuhan tubuh. Testes terletak dekat dengan daerah inguinalis dan tekanan intra-abdominal membantu testes melalui canalis inguinalis masuk scrotum. Hormone yang terlibat dalam pengaturan turunnya testes adalah gonadotropins dan androgen.

Testis pada sapi mempunyai panjang berkisar 10-13 cm, lebar berkisar 5-6,5 cm dan beratnya 300-400 gr. Babi mempunyai ukuran testes serupa pada sapi, tetapi domba dan kuda ukuran testisnya lebih kecil. Pada semua ternak, testis ditutupi oleh tunica vaginalis, sebuah jaringan serous yang merupakan perluasan dari peritoneum. Lapisan ini diperoleh ketika testis turun masuk ke dalam scrotum dari tempat asalnya dalam ruang abdominal yang melekat sepanjang garis epididymis. Lapisan luar dari testis adalah tunica albuginea testis, merupakan membrane jaringan ikat elastis berwarna putih. Pembuluh darah dalam jumlah besar dijumpai tepat di bawah permukaan lapisan ini. Lapisan fungsional dari testis, yaitu parenchyma terletak di bawah lapisan tunica albuginea. Parenchyma ini berwarna kekuningan, terbagi-bagi oleh septa yang tidak sempurna menjadi segmen-segmen. Parenchyma mempunyai pipa-pipa kecil didalamnya yang disebut tubulus seminiferous (tunggal), tubuli seminiferi (jamak). Tubuli seminiferi berasal dari primary sex cord yang berisi sel-sel benih (germ cells), spermatogonia, dan sel-sel pemberi makan, yaitu sel sertoli. Sel sertoli berukuran lebih besar dengan jumlah lebih sedikit daripada spermatogonia. Hormone gonadotropin asala kelenjar pituitary, follicle stimulating hormone (FSH) memacu sel-sel sertoli menghasilkan androgen binding protein (ABP) dan inhibin. Panjang tubuli seminiferi dari sepasang testes sapi, diperkirakan spanjang 5 km, sedangkan diameternya hamper 200. berat tubuli seminiferi diperkirakan 80-90% dari berat testes. Tubuli seminiferi bersambungan dengan sebuah tenunan tubulus, yaitu rete testes yang berhubungan dengan 12-15 saluran kecil, yaitu vasa efferentia yang menyatu pada caput epididymis.

Hormone testosterone diperlukan untuk perkembangan tanda-tanda kelamin sekunder dan untuk tingkah laku perkawinan secara normal. Testosterone juga berfungsi untuk mengontrol aktivitas kelenjar-kelenjar tambahan (accessory glands), produksi spermatozoa, dan pemeliharaan system saluran reproduksi jantan. Sedangkan perannya dalam diri ternak sendiri adalah membantu mempertahankan kondisi optimum pada spermatogenesis, transportasi spermatozoa dan deposisi spermatozoa ke dalam saluran reproduksi betina.


SCROTUM DAN CAUDA SPERMATICUS
Scrotum, adalah sebuah kantung dengan dua lobus pembungkus testes, terletak di daerah inguinalis, pada kebanyakan ternak yaitu terletak di antara dua paha kaki belakang. Tersusun atas lapisan luar kulit yang tebal yang mempunyai banyak kelenjar keringat dan kelenjar sebaceae, dilapisi selapis otot yang licin, tunica dartos yang bercampur dengan tenunan ikat. Tunica dartos membagi scrotum menjadi dua kantung dan melekat pada tunica vaginalis yang terletak pada dasar kantong tersebut. Fungsi utama dari organ reproduksi jantan ditunjukkan dalam table di bawah ini :

Organ Fungsi
Testis Produksi spermatozoa
Produksi hormone androgen
Scrotum Melindungi testis
Mengontrol temperature testis
Menahan testis
Corda spermaticus Menahan testis
Mengontrol temperature testis
Epididymis
Konsentrasi spermatozoa
Deposisi spermatozoa
Maturasi spermatozoa
Transportasi spermatozoa
Vas deferens Transportasi spermatozoa
Urethra
Transportasi semen
Klj. Vesicular
Penyusun cairan, substrat energy dan buffer bagi semen
Klj. Prostate Penyusun cairan dan ion-ion anorganik pada semen
Klj. Bulbourethral Membersihkan sisa-sisa urine dalam urethra
Penis
Alat kopulasi jantan
Prepuce Pembungkus ujung bebas dari penis

Corda spermaticus, berfungsi memberikan bantuan bagi kehisupan testis, terdapat tenunan yang disusun oleh pembuluh darah arteri dan vena, plexus, pampiniformis, berkas syaraf, musculus cremaster (otot daging licin), jaringan ikat, dan vas deferens. Kedua organ, corda spermaticus dan scrotum menjadi penggantung testis dan juga bekerja sama dalam pengaturan suhu testes.


KONTROL TEMPERATURE

Pada sapi, jika fluktuasi temperature berayun dari 5-120C, maka suhu dalam testes menjadi 4-70C di bawah suhu tubuhnya. Jika suhu luar mencapai 380C, maka perbedaan suhu testes dan suhu tubuhnya menjadi separuhnya, yaitu 2-30C di bawah suhu tubuh. Namun demikian, rendahnya suhu luar tidak diikuti dengan rendahnya fertilitas.

EDIDIDYMIS

Merupakan saluran eksternal pertama yang keluar dari testes di bagian apeks testis menurun longitudinal pada permukaan testes, dikurung oleh tunica vaginalis dan testis. Epididymis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu, caput (kepala), corpus (badan), dan cauda (ekor) epididymis.

Caput epididymis, nampak pipih di bagian apeks testis, terdapat 12-15 buah saluran kecil, vasa efferentia yang menuyatu menjadi satu saluran.

Corpus epididymis memanjang dari apeks menurun sepanjang sumbu memanjang testis, merupakan saluran tunggal yang bersambungan dengan cauda epididymis. Panjang total dari epididymis diperkirakan mencapai 34 meter pada babi dan kuda. Lumen cauda epididymis lebih lebar daripada lumen corpus epididymis. Struktur dari epididymis dan saluran eksternal lainnya, vas deferens dan urethra adalah serupa pada saluran reproduksi betina. Tunica serosa di bagian luar, diikuti dengan otot daging yang licin pada bagian tengah dan lapisan paling dalam adalah epithelial.

FUNGSI EPIDIDYMIS

Transportasi. Epididymis mempunyai fungsi pertama yaitu sebagai sarana transportasi bagi spermatozoa. Lama perjalanan spermatozoa dalam epididymis pada domba, sapi dan babi bervariasi, masing-masing adalah dari 13-15, 9-11, dan 9-14 hari. Beberapa factor yang menunjang perjalanan spermatozoa dalam epididymis, yaitu diantaranya adalah factor tekanan yang diakibatkan oleh produksi spermatozoa baru dari dalam tubuli seminiferi. Hal ini menyebabkan tekanan pada rete testis, vasa efferentia dan sampai pada epididymis. Gerakan spermatozoa dapat ditimbulkan oleh adanya pemijatan pada testis dan epididymis, hal ini dapat juga terjadi selama ternak memperoleh latihan atau gerak untuk mempertahankan kondisi tubuh yang baik (exercise). Pergerakan spermatozoa dibantu oleh adanya ejakulasi. Selama ejakulasi, kontraksi peristaltic melibatkan otot daging licin epididymis dan tekanan negative yang ditimbulkan oleh kontraksi vas deferens dan urethra menyebabkan spermatozoa dapat bergerak secara aktif dari epididymis menuju dalam vas deferens dan urethra.
Konsentrasi. Fungsi yang kedua adalah konsentrasi spermatozoa, dimana sewaktu spermatozoa memasuki epididymis bersama cairan asal testis dalam keadaan relative encer, diperkirakan sejumlah 100 juta per millimeter pada sapi, domba dan babi. Dalam epididymis spermatozoa dikonsentrasikan menjadi kira-kira 4 milyar spermatozoa per millimeter. Mekanismenya terjadi karena sel-sel epithel yang ada pada dinding epididymis mengabsorbsi cairan asal testis. Sebagian besar absorbsi cairan ini terjadi pada caput dan ujung proximal dari corpus epididymis.

Deposisi. Fungsi ketiga, adalah sebagai tempat deposisi (penyimpanan) spermatozoa. Sebagian besar disimpan pada cauda, dimana spermatozoa terkonsentrasi di bagian yang mempunyai lumen besar. Epididymis sapi jantan dewasa berisi antara 50-74 milyar spermatozoa. Viskositas tinggi, pH rendah, konsentrasi CO2 tinggi, ratio K terhadap Na tinggi, pengaruh testosterone, dan factor-faktor lain bergabung membentuk suasana bagi spermatozoa mempunyai laju metabolisme yang rendah dan dapat hidup lama. Spermatozoa tetap dapat hidup dan tetap fertile dalam waktu kira-kira 60 hari dalam epididymis.

Maturasi. Merupakan fungsi keempat. Hal ini dapat dibuktikan bahwa spermatozoa yang baru saja masuk ke caput epididymis berasal dari vasa efferentia tidak memiliki fertilitas dan juga tidak memiliki motilitas. Spermatozoa setelah melewati epididymis, maka akan memiliki fertilitas dan motilitas. Jika kedua ujung Cauda epididymis diikat, maka diketahui spermatozoa yang berada terdekat dengan corpus menigkat kemampuan fertilitasnya dalam waktu sampai 25 hari, sedangkan spermatozoa yang terdekat dengan vas deferens menurun kemampuan fertilitasnya. Hal ini membuktikan bahwa semakin tua spermatozoa, maka semakin hilang kemampuan fertilnya jika tidak keluar atau bergerak keluar dari epididymis. Sementara spermatozoa dalam epididymis, spermatozoa melepaskan butir protoplasma (cytoplasmic droplet) yang terbentuk pada leher spermatozoa selama spermatogenesis.


VAS DEFERENS DAN URETHRA

Vas deferens. Merupakan sebuah saluran dengan satu ujung berawal dari bagian ujung distal dari cauda epididymis. Kemudian dengan melekat pada peritoneum, membentang sepanjang corda spermaticus, melalui daerah inguinalis masuk ruang pelvis, dimana vas deferens bergabung dnegan urethra di suatu tempat dekat dengan lubang saluran kencing dari vesica urinaria. Bagian vas deferens yang membesar dekar dengan urethra, di sebut ampulla. Vas deferens mempunyai otot daging licin yang tebal pada dindingnya dan mempunyai fungsi tunggal yaitu sebagai sarana transportasi spermatozoa. Spermatozoa dikumpulkan dalam ampulla selama ejakulasi, sebelum dikeluarkan ke dalam urethra.

Urethra. Merupakan sebuah saluran tunggal yang membentang dari persambungan dengan ampulla sampai ke pangkal penis. Fungsi urethra adalah sebagai saluran kencing dan semen. Pada sapid an domba selama ejakulasi terjadi percampuran yang kompleks antara spermatozoa yang padat asal vas deferens dan epididymis dengan ciran sekresi darikelnjar-kelenjar tambahan dalam urethra yang berada di daerah pelvis menjadi semen. Pada kuda dan babi percampuran ini tidak sesempurna pada sapid an domba. Semen kuda dan babi terdiri dari bagian bebas (tanpa) spermatozoa dan bagian yang kaya spermatozoa.




KELENJAR – KELENJAR TAMBAHAN

Kelenjar – kelenjar tambahan (accessory glands) berada di sepanjang bagian uretra yang terletak di daerah pelvis, mempunyai saluran –saluran yang mengeluarkan sekresi – sekresinya kedalam uretra. Kelenjar – kelenjar tambahan ini terdiri dari kelenjar vasikular, kelenjar, kelenjar prostate dan kelenjar bulbourethral atau kelenjar cowper.
Kelenjar – kelenjar ini mempunyai sumbangan besar bagi volume cairan semen. Lebih lanjut diketahui bahwa sekresi kelenjar – kelenjar tambahan ini mengandung sebuah larutan buffers, zat – zat makanan dan substansi lain yang diperlukan bagi motilitas dan fertlitas

Kelenjar vesicular. Kelenjar ini di sebut juga sebagai kelenjar seminal vesicles, merupakan sepasang kelenjar yang mempunyai lobuler, mudah dikenali karenamirip segerombol anggur, berbonggol – bonggol. Panjang kelenjar ini sama pada beberapa jenis ternak seperti kuda, sapid an babi yaitu berkisar 13 – 15 cm, tetapi lebar dan ketebalannya berbeda, kelenjar vesicular pada sapi mempunyai ketebalan dan lebar hamper separuh dari yang ada pada babi dan kuda. Domba mempunyai kelenjar vesicular jauh lebih kecil, mempunyai panjang kira – kira 4 cm. saluran – saluran ekskretori kelenjar vesicular terletek di dekat bifurcation ampulla dengan uretra. Pada sapi, kelenjar vesicular memberikan sekresinya lebih dariseparuh volume total dari semem dan pada jenis – jenis ternak lainnya rupanya juga sama sebagai mana pada sapi. Sekresi kelenjar vesicular mengandung beberapa campuran organic yang unik, yakni tidak dijumpai pada substansi – substansilain di mana saja ada tubuh. Campuran – campuran anorganik ini di antaranya adalah fructose dan sorbitol, merupakan sumber energi utama bagi spermatozoa sapid a spermatozoa domba, tetapi pada kuda dan babi konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar vesikula juga mengandung dua larutan buffer, yaitu phosphate dan carbonate buffer yang penting sekali dalam mempertahankan pH semen agar tidak berubah, karena jika terjadi perubahan pH semen, hal ini dapat berakibat jelek bagi spermatozoa.

Kelenjar Prostate. Kelenjar prostate merupakan kelenjar tunggal yang terletak mengelilingi dan sepanjang uretra tepat dibagian posterior dari lubang ekskretoris kelenjar vesicular. Badan kelenjar prostate jelas dapat dilihat pada ternak yang dewasa, pada sapid an kuda dapat di raba melalui palpasi parectal. Pada domba, seluruh prostatenya mengelilingi otot daging uretra. Ekskresi kelenjar prostate hanya sebagian kecil saja menyusun pada cairan semen pada cairan semen pada beberapajenis ternak yang diteliti. Tetapi beberapa laporan menunjukkan bahwa setidak – tidaknya sumbangan kelenjar prostate sebagaimana substantial kelenjar vesicular pada babi. Kelenjar prostate mengandung banyak ion – ion anorganik, meliputi Na, Cl, dan Mg semuanya dalam larutan.

Kelenjar Bulbourethral atau Cwoper. Kelenjar bulborethal terdiri sepasang kelenjar yang terletak sepanjang uretra, dekat dengan titik keluarnya uretra dari ruang pelvis. Kelenjar ini mempunyai ukuran dan bentuk seperti bulatan yang berdaging dan berkulit keras, pada sapi lebih kecil dibandingkan pada babi. Pada sapi terletek mengelilingi otot daging bulbospongiosum. Sumbangannya pada cairan semen hanya sedikit. Pada sapi, sekresi kelenjar bulbourethral membersihkan sisa – sisa urine yang ada dalam uretra sebelum terjadi ejakulasi. Sekresi ini dapat di lihat sebagai tetes – tetes dari preputilium sesaat sebelum ejakulasi. Pada babi, sekresinya mengakibatkan sebagian dari semen babai menjadi menggumpal. Gumpalan ini dapat dipisahkan jika semen babai akan digunakan dalam inseminasi buatan. Selama perkawinan secara alam, gumpalan – gumpalan ini menjadi sumbat yang dapat mencegah membanjirnya semen keluar melalui canalis cervicalis menuju kedalam vagina dari babi betina.


Berikut adalah perbandingan dari kelenjar-kelenjar tambahan beberapa ternak :

Figure 3-6 Accessory glands of the bull, boar, ram, and stallion showing their relationship to the ampulla and urethra. (Redrawn from Ashdown and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed). ed. Hafez. Lea and Febiger.)
PENIS

Merupakan organ kopulasi pada ternak jantan, membentang dari titik urethra keluar dari ruang pelvis di bagian dorsal sampai dengan pada orificium urethra eksternal pada ujung bebas dari penis. Pada sapi, domba, kambing, dan babi penis mempunyai bagian yang berbentuk seperti huruf “S” (sigmoid flexure) sehingga penis dapat ditarik dan berada total dalam tubuh. Keempat jenis ternak tersebut dan kuda mempunyai musculus retractor penis, yaitu sepasang otot daging licin, jika releks memberikan kesempatan penis untuk memanjang dan jika kontraksi dapat menarik penis ke dalam tubuh kembali.

Pada kuda glans penisnya tipe vascular, mengandung lebih banyak jaringan erectile dibandingkan dengan glans penis pada domba, kambing, sapid an babi. Jaringan erectile adalah jaringan cavernous (sponge) terletak dalam dua daerah penis, yaitu pada corpus spongiosum penis yang merupakan jaringan cavernouse yang terletak di sekitar urethra, ditutupi oleh musculus bulbospongiosum pada pangkal penis. Kemudian pada corpus cavernosum penis, merupakan sebuah daerah jaringan cavernouse yang lebih besar, terletak di bagian dorsal dari corpus spongiosum penis. Pada mulanya kedua cavernouse tersebut berasal dari musculus ischlocavernouse. Kedua musculus bulbospongiosum dan musculus ischlocavernous adalah otot daging seran lintang yang merupakan musculus skeletal bukan otot daging licin sebagaimana halnya dengan otot-otot daging licin yang pada umumnya ada pada saluran reproduksi ternak jantan maupun betina. Pada saat ereksi penis dari type fibroelastic, diameternya tidak banyak berbeda dengan pada saat releks, tetapi pada penis type vascular, diameternya menjadi lebih besar dibandingkan ketika tidak ereksi. Gambar perbandingan bentuk glans penis antara sapi, domba, babi dan kuda, ditunjukkan pada gambar di bawah ini :



Figure 3-7 Comparative diagram showing the shape of the glans penis of the bull, boar, ram. and stallion. Note the twisted groove containing the external urethral orifice in the bull, the urethral proxess (filiform appendage)extending beyond the glands penis ing the ram, the corkscrew spiral in the boar, and the flattened glans penis in the stallion with the small urethral process extending beyond.(Redrawn from Ashdown and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed.). ed. Hafez.Lea and Febiger.)

PREPUTIUM
Kata prepuce atau preputeum mempunyai arti sama dengan sarung adalah ivaginato dari kulit yang membungkus secara sempurna pada ujung bebas dari penis. Perkembangan embrionik dari organ ini sama dengan perkembangan dari organ labia minira pada ternak betina. Prepuce dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian prepenile, lipatan luar dan bagian penile, lipatan dalam. Sekitar lubang prepuse ditumbuhi oleh rambut panjang dan kasar. Pada saat penampungan semen dalam program inseminasi buatan, perlu diadakan pencukuran terhadap rambut ini, untuk menjaga agar semen tidak tercemar oleh kotoran yang kemungkinan besar menempel pada rambut tersebut.

Kamis, 28 Maret 2013

makalah alat kelamin betina



PENDAHULUAN


Latar Belakang

Telah kita ketahui bahwa reproduksi merupakan salah satu proses yang tidak lepas dari kehidupan mahkluk hidup pada umumnya, proses reproduksi merupakan carasuatu organisme untuk dapat menjaga dan melestarikan kelangsungan hidup spesiesnya agar tidak punah. Melalui reproduksi keseimbangan alam akan terus terjaga. Dalam proses reproduksi sangat tergantung pada peraran peran dari oragan-organ reproduksi, baik itu pada hewan jantan maupun pada hewan betina.

Alat kelamin betina dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu 1) Ovarium, 2) saluran reproduksi ( oviduct, uterus, servix, dan vagina), dan 3) alat kelamin luar ( klitoris dan vulva).

Hewan betina tidak hanya menghasilkan sel-sel kelamin betina yang penting untuk membantu suatu individu baru, tetapi juga menyediakan lingkungan dimana individu tersebut terbentuk, diberi makan dan berkembang selama masa- masa permulaan hidupnya. Fungsi-fungsi ini dijalankan oleh organ-organ reproduksi primer dan sekunder. Organ reproduksi primer, ovaria, menghasilkan ova dan hormon-hormon kelamin betina Organ-organ reproduksi sekunder atau saluran reproduksi terdiri dari tuba fallopii (oviduct), uterus, cervix, vagina dan vulva. Organ-organ reproduksi sekunder adalah menerima dan menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina, memberi makan dan melahirkan individu baru. Alat-alat kelamin dalam digantung oleh ligamentum lata. Ligament ini terdiri dari mesovarium, mesosalpinx dan mesometrium yang masing-masing menggantung ovarium, tuba fallopii dan uterus.




BAB II
TINJAUAN PERPUSTAKAAN


Hewan betina tidak hanya menghasilkan sel-sel kelamin betina yang penting untuk suatu individu baru, tetapi juga menyediakan lingkungan dimanaindividu tersebut terbentuk, diberimakan dan berkembang selama masa – masa permulaan hidupnya. Fungsi – fungsi ini dijalankan oleh organ-organ reproduksi primer dan sekunder. (Aninomous, 2009)

Alat kelamin betina dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu :
  1. Gonad atau oavarium, merupakan bagian alat kelamin yang utama : Ovarium menghasilkan sel telur, oleh karena itu dalam bahsa indonesia yang seringkali disebut induk telur, indung telur atau ada pula yang memberikan nama pengarang telur.
  2. Saluran-saluran reproduksi betina terbagi menjadi : oviduct atau tuba falopii, uterus yang terbagi lagi atas kornua uteri dan korpus uteri, serviks dan vagina.
  3.  Alat kelamin bagian luar terdiri atas : klitoris dan vulva (Toungku.N. 2006)
Fungsi organ-organ reproduksi sekunder adalah menerima dan menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina, memberi makan dan melahirkan individu baru. Alat-alat kelamin dalam digantung oleh ligamentum lata. Ligament ini terdiri dari mesovarium, mesosalpinx dan mesometrium yang masing-masing menggantung ovarium, tuba fallopii dan uterus. Pada sapi dan domba, pertautan ligamentum lata adalah dorsolateral, di daerah ilium, sehingga uterus terletak bagaikan tanduk domba jantan cekung ke arah dorsal dan ovaria terletak dekat pelvis. (Aninomous, 2009)
Ovum (sel telur) dilepaskan dari ovary dimana (dalam keadaan normal) terjadi proses pembuahan (fertilisasi), dalam perjalanan ovum dari ovary menuju keuterus. Didalam uterus telur yang sudah dibuahi itu berkembang menjadi embrio dan berkembang menjadi fetus, yang pada akhirnya keluar dari uterus menuju vagina dan vulva, sebagai anak yang baru lahir (neonat) (Fransons. R.D. 1996)



 
BAB III
PEMBAHASAN

Secara anatomi, alat kelamin betina dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu 1) Ovarium, 2) saluran reproduksi ( oviduct, uterus, servix, dan vagina), dan 3) alat kelamin luar ( klitoris dan vulva)

Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum abdominalis. Ovarium mempunyai dwifungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan serbagai organ endokrin yang mensekresikan hormon-hormon kelamin betina, estrogen dan progesterone, bentuk dan ukuran ovarioum berbeda-beda menurut species dan fase siklus birahinya.
Bagian ovarium yang tidak bertaut pada mesovarium menonjol ke dalam cavum abdominalis. Pada permukaan inilah folikel ovarii menjulang keluar, sebagaimana ditemukan pada sapi, domba dan babi. Ovarium terdiri dari medulla dan cortex, dikelilingi oleh epithel kecambah dan pada umumnya bertambah berat 4 sampai 7 kali berat sewaktu lahir pada waktu hewan menjelang pubertas. Medulla ovari terdiri dari jaringan ikat fibrio-elastik yang tidak teratur, dan sistem syaraf dan pembuluh darah yang memasuki ovarium melalui hillus (pertautan antara ovarium dan mesovarium). Arteria tersebut tersusun dalam satu bentuk spiral yang definitive. Cortex merupakan tempat pembentukan ovum dan hormon, jaringan ikat cortex mengandung banyak fibroblast, beberapa kolagen dan serabut-serabut retikuler, buluh-buluh darah, lymphe, syaraf dan serabut-serabut otot licin. Sel-sel jaringan ikat dekat permukaan tersusun sejajar dengan permukaan ovarium dan agak lebih padat dari pada sel-sel yang terletak kearah medulla.
Pada sapi ovarium berbentuk oval dan bervariasi dalam ukuran panjang, lebar dan tebal masing-masing 1,3 -5,0 cm, 1,3-3,2 cm dan 0,6-1,9 cm, ovarium kanan umumnya agak lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara fisiologik ovarium kanan lebih aktif. Folikel mencapai kematangannya melalui tingkatan-tingkatan perkembangan folikel-folikel primer, sekunder, tertier (yang sedang bertumbuh). Folikel sekunder berkembang ke arah pusat stroma cortex sewaktu kelompok sel-sel folikel yang memperbanyak diri membentuk suatu lapisan multiseluler sekeliling vitellus, pada stadium ini terbentuk suatu membrane, zona pellucida, antara oogonium dan sel-sel folikuler. Folikel tertier timbul sewaktu sel-sel pada lapisan folikuler memisahkan diri untuk membentuk tepian dan suatu rongga, atau kemana oogonium akan menonjol. Antrum dibatasi oleh banyak lapisan sel folikuler yang dkenal secara umum sebagai membrane granulosa,dan diisi oleh suatu cairan jernih, liquor foliculli, yang kaya akan protein dan estrogen.
Diameter folikel De Graaf berbeda-beda menurut jenis hewan. Karena ukurannya yang selalu bertambah, folikel De Graaf yang matang menonjol keluar melalui cortex ke permukaan ovarium bagaikan suatu lepuh. Pertumbuhanya meliputi dua lapis sel stroma cortex yang mengelilingi sel-sel folikuler. Lapisan sel-sel tersebut membentuk theca folliculi yang dapat dibagi atas theca interna yang faskuler dan theca externa yang fibrous. Kemungkinan estrogen disekresi langsung dari sel-sel theca interna ke dalam folikel melalui suatu selubung dasar, membrana propria, yang memisahkan theca interna dari membrana granulosa. Dengan perkembangan pesat buluh-buluh darah cortex di sekeliling folikel, dan pembentukan dua lapisan theca, suatu jalan vaskuler berbentuk keranjang berkembang di sekeliling folikel, terutama pada theca interna.
Jumlah folikel De Graf yang terbentuk per siklus birahi tergantung pada hereditas dan faktor-faktor lingkungan. Pada sapi dan kuda, satu folikel biasanya berkembang lebih cepat daripada yang lain sehingga pada saat estrus hanya satu ovum yang dilepaskan. Folikel-folikel selebihnya beregresi dan menjadi atretik. Baik derajat perkembangan folikel atau jumlah yang menjadi matang tergantung pada gonadotropin hypopyseal. Banyak folikel bertumbuh selama fase-fase pertama estrus, sedangkan hanya sedikit yang menjadi matang. Hal ini mungkin hanya sedikit hormon yang dibutuhkan untuk memulai pertumbuhan folikel dibandingkan dengan untuk mempertahankan folikel yang lebih besar sampai mendekati ovulasi. Penyuntikan hewan dengan gonadotropin dalam dosis tinggi dapat memperbanyak jumlah folikel yang menjadi matang ( super ovulasi).
Pada ovulasi pemecahan folikel De Graf terjadi pada saat ovum dilepaskan dari ovarium, suatu proses yang disebut ovulasi. Sebelum ruptura folikel terjadi, ovum dibungkus oleh suatu massa padat sel-sel foliker, cumulus oophorus, yang tersembul kedalam antrum yang penuh berisi cairan, cumulus oophorus umumnya bertaut pada sel-sel granulosa yang terletak bertentangan dengan sisi yang akan pecah. Ruptura itu sendiri berlangsung pada apex folikel, lapisan terluar terlepas lebih dahulu. Lapisan dalam menyusup melalui celah tersebut dan membentuk suatu papila atau stigma. Stigma menipis, menggembung ke permukaan ovarium, dan menjadi sama sekali tidak berbuluh darah. Stigma yang menggembung segera pecah melepaskan sedikit cairan folikuler tipis. sesudah suatu interval singkat, masa ovum bergerak ke arah celah dan makin memanjang selama gerak majunya. Semakin banyak cairan bergerak melalui celah tersebut membawa ovum yang telah diputuskan hubunganya dengan cumulus oophorus selama fase-fase terakhir perkembangan folkuler, sel teluir yang terbawa keluar kerongga perut tertadah oleh ujung tuba fallopii yang ber fimbriae. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan ovulasi tergantung pada lokasi ovum di dalam folikel. Waktu tersebut akan lebih singkat jika sel telur berada pada dasar folikel daripada bila ia terletak dekat stigma yang menjendol.
Segera setelah ovulasi rongga folikel diisi oleh darah dan lymphe,membentuk corpus haemorrhagicum. Struktur ini relatif lebih besar pada babi daripada sapi dan domba. Membrana granulosa melipat dan sel-sel granulosa yang hypertrophis berbentuk tali yang membentangsecara radial dari periphery ke sentral rongga. Sel-sel theca interna dengan pembuluh-pembuluh darahnya kemudian memasuki massa ini. Perubahan-perubahan selanjutnya tergantung apakah ovum dibuahi atau tidak. Corpus luteum yang matang terutama terdiri dari sel-sel lutein yang tersusun dalam kolom-kolom yang dipisahkan oleh buluh-buluh darah dan jaringan ikat. Selama perkembangannya ,ia dimasuki oleh suatu jala kapiler yang ekstensif. Bentuk corpus berbeda menurut species, pada sapi dan kuda sel-sel lutein mengandung suatu pigmen lipochrom kuning, lutein, pada domba dan babi, corpus luteum berwarna daging karena sel-sel granulosannya tidak mengandung pigmen tersebut.
Pertambahan berat corpus luteum sangat cepat pada permulaan pertumbuhannya. Pada umumnya, periode corpus luteum agak lebih lama dari setengah lamanya siklus birahi. Pabila terjadi kebuntingan, corpus luteum mempertahankan ukuran besarnya. Corpus berfungsi selama kebuntingan pada semua ternak mamalia kecuali pada kuda. Corpus luteum kebuntingan dikenal sebagai corpus luteum verum dan dapat lebih besar daripada corpus luteum spurium (badan kuning semu) dari siklus birahi. Pada sapi, corpus luteus verum bertambah besar sampai bulan kedua dan ketiga, kemudian menurun sampai bulan keempat dan keenam masa kebuntingan dan selanjutnya relatif konstan sampai partus.
2. Tuba Fallopii (oviduct)
Tuba fallopii atau oviduct merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku dan terasa seperti kawat terutama pada pangkalnya. Panjang dan derajat liku-likunya berbeda-beda menurut species. Pada sapi dan kuda oviduct panjangnya mencapai 20-30 cm, dengan diameter 1,5-3,0 mm, panjangnya pada babi dan domba mencapai 15 sampai 30 cm. Tuba fallopii tergantung di dalam mesosalpinx, dibagi atas infudibulum dengan fimbriae, ampula, dan isthmus. Ujung oviduct dekat ovarium membentang ternganga membentuk suatu struktur berupa corong infudibulum. Antara ovarium dan tuba fallopii terdapat suatu hubungan anatomic yang intim, walaupun tidak tersambung dalam arti kata yang sebenarnya, pada ternak mamalia, ovarium terlertak di dalam bursa ovarii yang terbuka, pada sapi dan domba bursa ovarii cukup lebar dan terbuka, pada babi ia agak menutupi ovarium.

Tuba fallopii tergantung di dalam mesosalpinx, ia dapat terbagi atas infudibulum dengan fimbriae-nya, ampula, isthimus. Ujung oviduct dekat ovarium membentang terngaga membentuk struktur berupa corong, infudibulum. Ampula tuba fallopii merupakan setengah dari panjang tuba dan bersambung dengan daerah tuba yang sempit, isthimus. Arti anatonik dan fisiologik pertemuan ampulla-isthmus belum diketahui. Isthmus dihubungkan secara langsung ke cornua uteri (pada kuda Isthmus memasuki cornua dalam bentuk suatu papila kecil). Tidak ada otot sphincter dalam arti sebenarnya pada daerah pertemuan utero-tubal. Pada babi pertemuan ini dilengkapi dengan penonjolan-penonjolan mucosa panjang berbentuk jari yang berasal dari oviduct memasuki lumen uterus sebagai lipatan-lipatan yang cukup baik pemberian darahnya (Hook dan Hafez, 1969).
a. Struktur tuba fallopii
Fimbriae yang dibentuk oleh jaringan erektil mengandung suatu jala serabut-serabut otot dan suatu cincin buluh darah besar, terutama venae. Pada waktu ovulasi, buluh-buluh darah tersebut penuh terisi darah, mengakibatkan pembesaran dan penegangan fimbriae. Penegangan ini, bersama kontraksi otot-otot, membawa ostium tuba fallopii mendekati permukaan ovarium.
Dinding tuba fallopii terdiri atas mucosa, muskulatur dan selaput serosa di bagian luar. Tipe mucosa dan musculatur berbeda-beda pada berbagai bagian tuba. Mucosa membentuk lipatan-lipatan primer besar dan lipatan-lipatan sekunder kecil, yang tidak berarti di dalam isthmus terapi berlimpah-limpah di dalam ampula. Lipatan-lipatan mucosa tersebut lebih nyata pada kuda dan babai daripada sapi dan domba. Pada kedua jenis ternak tersebut terakhir terdapat empat lipatan primer longitudinal, masing-masing mengandung lipatan-lipatan sekunder, sedangkan pada kuda, ampula dapat memiliki sampai 60 lipatan-lipatan sekunder.
Mucosa terdiri dari sel-sel epithel permukaan, serabut-serabut otot, dan suatu jaringan ikat dibawahnya yang mengandung buluh-buluh darah dan limfe. Pada ujung yang mendekati ovarium, lumen oviduct dibatasi oleh epithel columner tang bercilia, sel-sel ini agak berkurang pada ujung yang mendekati uterus. Disamping sel-sel bercilia, ditemukan pula paling sedikit dua tipe sel lain, yaitu sel-sel sekretoris columnar tanpa cilia dan sel-sel berbentuk batang columnar tipis. Selama siklus birahi, terdapat perubahan-perubahan ukuran sel-sel epithel, aktifitas sel-sel sekretoris, dan banyaknya cilia dan kapiler-kapiler subephitelial. Sel-sel yang tidak bercilia makin menjadi sekretoris aktif selama estrus dan sebelum partus.
Bagian muskulatur terdiri dari satu lapisan serabut-serabut otot sirkuler atau spiral bagian dalam dan selapis luar berkas-berkas longitudinal. Otot-otot licin memeasuki mucosa dan memungkinkan kontraksi-kontraksi yang terkoordiner pada seluruh dinding tuba fallopii, tebal otot oviduct meninggi dari ujung ujung ovarial ke ujung uteri. Serosa terdiri dari jaringan ikat dan selubung luar yang terbentuk dari peritoneum, saluran darah untuk tuba fallopii datang dari arteria utero-ovarii, inervasi sama dengan untuk uterus dan ovarium.
b. Fungsi tuba fallopii
    Tuba fallopii mempunyai fungsi yaitu :
1. Menerima telur yang diovulasikan oleh ovarium.
2. Menerima spermatozoa dari uterus
3. Mempertemukan ovum dan spermatozoa
4. Menyalurkan ovum yang telah dibuahi ke dalam uterus
5. Menyeleksi sperma yang akan masuk ke dalam tuba fallopii dari uterus
6. Tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa.

c. Anatomi perbandingan oviduct pada beberapa jenis hewan
      •         Domba berliku & lbh panjang (15 - 20 cm) dibanding sapi
      •         Babi berliku, infundibulumnya, yg ada di permukaan dlm bursa, hampir seluruhnya menelan ovary Panjang : 14 - 28 cm & memipih yang menuju ke uterus
      •         Kuda mengembang dgn mendadak yang menuju ke infundibulum, lebih tebal dibanding oviduct spesies lain & kurang mengembung, shg hanya menutupi daerah fossa ovary tanpa menutupi bagian lain Panjang: 20 - 30 cm & menjadi berliku ketika melalui mesosalpinx yg akhirnya menyatu dengan uterus
3. Uterus
Uterus adalah suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan foetus, dan stadium permulaan ekspulsi foetus pada waktu kelahiran. Uterus terdiri dari cornua, corpus dan cervix. Uterus pada hewan kebanyakan terdiri atas sebuah korpus uteri dan dua buah kornua uteri, dinding uterus terdiri dari 3 lapis dari luar ke dalam yaitu :
a. Membrane serosa (merupakan dinding paling luar)
b. Myometrium (lapisan urat daging licin yang terdiri dari 3 lapis yaitu: serabut urat daging licin yang berjalan longitudinal, lapis tengah yang mengandung urat syaraf dan pembuluh darah, lapis serabut urat daging licin yang berjalan circular.
c. Endometrium (terdiri atas epitel, lapisan kelenjar kelaenjar uterus dan tenunan pengikat).
Pada ruminansia, cornua uteri khusus berkembang baik karena disinilah tempat pertumbuhan foetus, pada kuda, perkembangan foetus terjadi di dalam corpus uteri, sebagai akibatnya cornua uteri tidak berkembang dengan baik. Kedua cornea uteri dipertautkan pada dinding pelvis dan dinding abdomen oleh ligamentum lata. Pada ternak pluripara ligament-ligamen uterus mengembang dan uterus menggantung ke rongga pelvis, pada kuda keadaan ini dapat menghambat penyingkiran cairan endomentrium atau malah memungkinkan sedikit urine masuk melalui cervix selama estrus dan mengakibatkan perdarahan catarrhal ringan. Cervix atau leher uterus merupakan suatu otot sphincter tubuler yang sangat kuat dan terdapat antara vagina dan uterus. Dindingnya lebih keras dan tebal dan lebih kaku daripada dinding uterus atau vagina.
      a.      Struktur uterus
- Sapi
Disebelah cranial gerbang pelvis dgn cervix berada pada rongga pelvis. Uterus segaris dgn lantai pelvis, menggulung ke depan saat berjalan ke cranial. Panjang badan uterus 3 cm, panjang tiap tanduk 40 cm. Diameter bgn tengah tanduk uterus 3 cm & memipih pada bgn yg mendekati oviduct
Peritoneum membungkus badan uterus shg uterus tampak lebih panjang dari ukuran sejatinya. Intercornual ligaments melekatkan ke-2 tanduk di daerah badan uterus
Tanduk uterus berjalan ke cranial & membentuk spiral saat berjalan ke ventral, caudal & dorsal yg ditunjang oleh pita lebar. Ujung-2 kedua tanduk uterus melipat kebelakang - membentuk huruf S.

Dinding uterus terdiri dari selaput mucosa di bagian dalam, selapis otot licin di bagian tengah, dan selaput serosa di bagian luar, ialah peritoneum. Dari segi fisiologik, hanya dua lapisan uterus yang dikenal (endometrium dan myomentrium).
Endomntrium adalah suatu struktur granduler yang terdiri dari lapisan epithel yang membatasi rongga uterus, lapisan granduler dan jaringan ikat. Tebal dan vaskulerisasi endomentrium bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan hormonal ovarial dan kebuntingan.
Permukaan dalam uterus ruminansia mengandung penonjolan-penonjolan seperti cendawan dan tidak berkelenjar, carunculae yang tersusun dari empat jalur, mulai dari corpus uteri ke kedua cornua uteri dan terdiri dari jaringan ikat seperti yang ditemukan dalam stroma cortex avarii. Daerah yang lebih dalam di antara penonjolan-penonjolan tersebut kaya akan buluh-buluh darah tetapi tidak mengandung kelenjar, uterus sapi yang tidak bunting memiliki 70-120 corunculae, masing-masing berdiameter 15,0 mm. Selama kebuntingan carunculae dapat mencapai diameter 10,0 cm dan terlihat seperti spon karena banyak lubang-lubang kecil ­(crypta) yang menerima villi chorionik placental.
Kelenjar-kelenjar uterus tersebar di seluruh endometrium kecuali pada carunculae, kelenjar-kelenjar tersebut bercabang, tubuler, berliku-liku terutama pada ujungnya, dan kepadatanya berfariasi menurut species, bangsa paritas dan siklus birahi. Variasi kepadatan atau jarak antara satu kelenjar dengan satu yang lain selama siklus birahi sebagian besar disebabkan oleh perubahan-perubahan diameter dan jumlah substansi dasar stroma. Jumlah kelenjar makin banyak ke arah cornua uteri dan kurang ke arah cervix. Kelenjar-kelenjar ini dapat cepat diperbanyak dengan penguncupan dan pertumbuhan keluar dari daerah basis kuncup-kuncup kelenjar yang tidak sampai ke permukaaan menggembung dan menjadi cystik.
Selama proestrus, sewaktu endometrium berada dibawah pengaruh estrogen (fase folikuler), faskularisasi endometrium bertambah, epithel permukaan berbentuk columnar pendek dan kelenjar-kelenjar sedikit bertumbuh, walaupun tetap lurus dengan beberapa cabang, sebagai akibat dari perubahan-perubahan di dalam ovarium pada waktu estrus, endometrium kemudian berada di bawah kontrol corpus luteum yang menghasilkan progesteron. Pada permulaan diestrus (fase luteal), endometrium bertambah tebal, epithel permukaan menjadi columnar tinggi dan kelenjar-kelenjar uterus mencapai puncak perkembangannya (lebih besar, lebih berbelit dan bercabang). Selama periode ini kelenjar-kelenjar tersebut bersifat sekretoris terhenti.
b. Fungsi uterus :
- Pada waktu estrus
kelenjar endometrium menghasilkan cairan uterus yang diperlukan spermatozoa yang masuk ke uterus untuk kapasitasi, pada waktu kopulasi, uterus berkontraksi, ini diperlukan bagi pengangkutan spermatozoa dari uterus ke tuba fallopii.
- Pada waktu mesestrus dan awal diestrus
Setelah ovulasi sel terbentuk dan dan hormon progesterone dihasikan, jika telur telah dibuahi dan masuk ke uterus maka cairan uterus merupakan substrat yang cocok bagi pertumbuhan embrio muda, pertumbuhan konseptus berjalan terus hingga menemukan tempat yang cocok untuk melekat pada endometrium, jika konseptus selamat dan tumbuh menjadi embrio, maka hewan menjadi bunting dan uterus mengalami perubahan besar secara perlahan-lahan.

- Pada waktu kebuntingan
Jika hewan bunting, uterus membesar secara perlahan sesuai dengan pertumbuhan embrio, pembesaran ini cukup menakjubkan karena dalam tubuh tidak ada alat tubuh yang mengalami pembesaran seperti uterus
- Pada waktu melahirkan
Serabut dan urat daging licin yang terdapat dalam dinding uterus terjadi karena rangsangan hormone oxytocine mulai berkontraksi, kontraksi ini sangat kuat hingga pada sapi kuat mengangkat fetus sebesar 50 kg dari besar abdomen.
- Pada waktu selesai partus
Uterus mengalami perubahan yaitu pengecilan hingga mencapai dimensi tidak bunting (involusi), involusi pada sapi memakan waktu yang cukup lama yaitu 60 hari, sedangkan pada babi hanya 30 hari.
- Pada diestrus
Diestrus adalah bagian dari siklus birahi dimana hewan betina tidak tidak bunting, karena telur yang masuk uterus tidak dibuahi spermatozoa, telur yang tidak dibuahi kemudian mati dan diabsorpsi oleh endometrium, setelah resorbsi, endometrium mempersiapkan diri untuk peristiwa-peristiwa selanjutnya yaitu estrus sekresi cairan untuk kapasitasi spermatozoa dan persiapan implantasi.

4. Serviks
Servik adalah urat daging sphincter yang terletak diantara uterus dan vagina, yang merupakan pintu masuk ke dalam uterus karena dapat terbuka dan tertutup tergantung pada siklus birahi hewan. Cervix atau leher uterus merupakan suatu otot sphincter tubuler yang sangat kuat dan terdapat antara vagina dan uterus. Dindingnya lebih keras, lebih lebar dan lebih kaku daripada dinding-dinding uterus atau vagina. Hal ini lebih jelas pada hewan-hewan primipara dari pada pluripara. Dinding servik terdiri atas mucosa, muskularis, dan serosa. Mucosa cervix tersusus dalam lipatan-lipatan utama yang sebaliknya mengandung lipatan sekunder kecil. Sel-sel yang menghasilkan mucus pada mucosa mempunyai permukaan sekretoris yang luas, aktivitas sekretorisnya yang tertinggi ditemukan pada saat estrus. Servik umumnya menonjol ke caudal ke dalam vagina, servik dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen yang merapat, walaupun struktur servik berbeda-beda antara ternak-ternak mamalia, dindingnya ditandai oleh berbagai penonjolan-penonjolan. Pada ruminansia pernonjolan-penonjolan ini terdapat pada bentuk lereng-lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin annuler yang berkembang sampai derajat yang berbeda pada species yang berbeda pula. Cincin-cincin ini sangat nyata pada sapi (biasanya 4 buah) dan pada domba, yang dapat menutup rapat cervik secara sempurna. Pada babi cincin-cincin tersebut berbentuk sekrup pembuka botol yang disesuaikan dengan perputaran spiralis ujung penis babi jantan, pada servik kuda terdapat lipatan-lipatan mucosa yang nyata dengan penonjolannya yang memanjang ke dalam vagina.

Struktur cervix berbeda diantara spesies ternak mamalia, namun dindingnya ditandai oleh berbagai lipatan ongitudinal (membujur).Lipatan ini membentuk lereng-lereng yang nyata yg mengelililingi bagian dalam cervix, jumlahnya 3 - 4, satu lipatan berada dibelakang lipatan lain/lipatan tersebut dapat membetuk spiral yg tidak tertatur.
Dinding servix terdiri dari mucosa , muskularis dan serosa. Mucosa servik tersusun dalam lipatan-lipatan utama, yang sebaliknya mengandung lipatan-lipatan sekunder kecil. Sel-sel yang menghasilkan mucus pada mucosa mempunyai permukaan sekretoris yang luas, aktivitas sekretorisnya yang tertinggi ditemukan pada waktu estrus, pada waktu berahi mucus cervix terdapat dalam keadaannya yang paling tidak kental. Muskularis sangat kaya akan kolagen dan jaringan elastik dan mengandung juga otot licin, lapisan otot sirkuler dibagian dalam sangat berkembang dan membentuk bahan utama lipatan-lipatan anuler.

Fungsi servik antara lain adalah :
1. Menutup lumen uterus sehingga tidak memberi kemungkinan untuk masuknya jasad mikroskopik dan makroskopik ke dalam uterus
2. Menghasilkan cairan, khususnya pada waktu birahi yang berfungsi memberi jalan spermatozoa, karena sperma yang berkualitas baik yang mampu menembus servik
3. Mencegah terjadinya abortus, karena adanya cairan lengket (sekretum) yang merupakan sumbat pada carnalis servicalis sesaat sebelum kelahiran.
4. Sebagai pintu gerbang dari uterus saat fetus dilahirkan.
5. Vagina
Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis dorsal dari vesica urinaria, dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus. Vagina mempunyai kesanggupan berkembang yang cukup besar. Vagina terbagi atas bagian Vestibulum yaitu bagian ke sebelah luar yang berhubungan dengan vulva, Portio vaginalis cervicis yaitu bagian ke sebelah dalam cerviks.
Legokan yang dibentuk oleh penonjolan cervik ke dalam vagina disebut fornix. Fornix dapat membentuk lingkaran penuh sekeliling cervix seperti pada kuda atau tidak ada sama sekali seperti pada babi. Suatu fornix dorsal ditemukan pada sapi dan domba.
Ujung caudal vagina berbatasan tepat cranial dari muara uretra di daerah hymen. Hymen adalah suatu kontriksi sirkuler antara vagina dan vulva. Hymen dapat menetap dalam berbagai derajat pada semua species, dari suatu pita sentral tipis dan vertikal sampai suatu struktur yang sama sekali tidak tembus (hymen imperforata). Sekitar 14 persen sapi-sapi dara memiliki sisa-sisa hymen, yang biasannya menghilang sesudah kopulasi atau kelahiran, lipatan-lipatan hymen yang jelas ditemukan pada kuda.
Dinding vagina terdiri dari mucosa,muskularis dan serosa. Selaput lendir terdiri dari sel-sel epithel tak berkelenjar, bersusun dan squamous, kecuali pada sapi, pada sapi, beberapa sel mucous terdapat di bagian cranial dekat cervik dan permukaan epithel tidak berkornifikasi, mungkin karena kadar estrogen yang rendah dalam sirkulasi darah. Perubahan-perubahan siklik yang terjadi pada epithel vagina dapat diikuti dengan tehnik preparat ulas bahan vaginal. Akan tetapi tehnik ini hanya jelas pada hewan-hewan yang bersiklus birahi pendek seperti tikus.
Selubung muskuler vagina tidak berkembang baik sebaik bagian luar uterus. Terdiri dari selapis sirkuler tebal di bagian dalam dan selapis tipis luar, lapisan terakhir bersambung sampai jarak tertentu ke uterus, sapi khas memiliki otot sphincer cranial disamping urat otot sphincer caudal (pada tempat pertemuan vagina dan vestibulum) yang ditemukan pada ternak mamalia yang lain. Lapisan muskularis cukup baik disuplai dengan buluh-buluh darah, berkas-berkas syaraf, kelompok-kelompok kecil sel-sel syaraf dan jaringan ikat longgar dan padat.
Lapisan muskulatur di bagian vagina terdiri dari dua lapis yaitu:
1. Lapis memanjang (longitudinal) tipis merupakan lapisan luar.
2. Lapis lingkar (circulair) agak tebal , berada di bagian dalam.
Diantara kedua lapisan muskulatur, terdapat tenunan ikat longgar maupun padat, yang banyak terdapat flexus-flexus vena dan kelompok sel syaraf perasa. Pada hewan betina dara terdapat selaput tipis yang merupakan sekat antara vestibulum vaginae dan portio vaginalis cervicis yang disebut Hymen. Pada umumnya hymen karena tipisnya robek dan hilang pada waktu hewan mencapai dewasa.
6. Alat Kelamin Bagian Luar
Alat kelamin bagian luar terbagi atas vestibulum dan vulva.Vulva terdiri atas labia majora, labia minora, commisura dorsalis dan ventralis dan clitoris, vulva dan vestibulum tidak timbul dari saluran paramesonephrik primitive tetapi berasal dari entoderm sinus urogenitalis dan ektoderm embrional. Pada permukaan vulva terdapat banyak kelenjar kulit, semua bagian alat kelamin luar yaitu klitoris dan vulva mempunyai banyak ujung-ujung syaraf perasa. Syaraf perasa ini berperan penting pada waktu kopulasi yaitu klitoris dapat sedikit berereksi karena mengandung sepasang unsur cavernus yang kecil, vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah yang mengalir ke dalamnya. Labia atau bibir vulva secara normal selalu dekat berdampingan, tidak menganga, dan lubang vulva terletak tegak lurus terhadap lantai pelvis.
Pertemuan antara vagina dan vestibulum ditandai oleh muara urethra externa, orificum urethrae externa, dan sering pula oleh lereng hymen. Posterior dari muara urethra pada lantai vestibulum terdapat satu kantong buntu, diverticulum suburethralis yang ditemukan di sapi, domba dan babi. Kelenjar-kelenjar bartholini yang menghasilkan cairan kental, sangat efektif sewaktu estrus, mempunyai struktur tubo-alveoler serupa dengan kelenjar-kelenjar bulbo-urethralis pada hewan jantan. Vestibulum mempunyai beberapa otot sirkuler atau seperti sphicter yang menutup saluran kelamin terhadap dunia luar. Otot-otot ini bertaut pada m. Sphicter anni pada vertebraecoccigae dan sacral terakhir. Jadi selama partus, vestibulum berfungsi sebagai tempat tumpuan pertautan bagi seluruh saluran kelamin yang berkontraksi sewaktu mengeluarkan foetus.
Labia atau bibir vulva secara normal selalu dekat berdampingan, tidak menganga, dan lubang vulva terletak tegak lurus terhadap lantai pelvis. Dinding labia majora banyak mengandung kelenjar-kelenjar sebaceous dan tubuler, deposit-deposit lemak, jaringan elastic dan selapis tipis otot licin, dan mempunyai struktur permukaan luar yang sama seperti kulit. Labia minora adalah bibir yang lebih kecil dengan jaringan ikat di dalamnya. Commisura ventralis menutupi clitoris, suatu struktur yang homolog dan mempunyai asal embriologik yang sama dengan penis, pasa kebanyakan ternak, clitoris berukuran panjang kira-kira 5-10 cm, tetapi seluruhnya praktis tersembunyi di dalam jaringan antara vulva dan arcus ischiadieus. Clitoris terdiri dari jaringan erektil yang banyak ujung-ujung syaraf sensoris. Pada sapi sebagian besar clitoris terkubur di dalam mucusa vestibulum. Pada kuda clitoris berkembang baik, sedangkan pada babi berbentuk panjang dan berkelok, berakhir pada suatu titik atau puncak kecil.
BAB IV
KESIMPULAN

  v  Secara anatomi, alat kelamin betina dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu 1) Ovarium, 2) saluran reproduksi ( oviduct, uterus, servix, dan vagina), dan 3) alat kelamin luar ( klitoris dan vulva)

  v  Organ-2 Reproduksi Betina & Fungsi Utamanya
Organ
Fungsi(-fungsinya)
Ovary
Produksi gamet/sel benih (ovum, tunggal: sel telur); ova, jamak: sel-sel telur), produksi estrogen oleh folikel Graaf, produksi progestin oleh corpus luteum
Oviduct
Transpor gamet (spermatozoa & oocyte), tempat pembuahan
Uterus
Menahan & memberi makan embrio & fetus
Cervix
Melindungi uterus dari kontaminasi mikroba, penyimpan semen dan transpor spermatozoa, tempat deposisi semen saat kawin alam (babi, kuda)
Vagina
Organ kopulasi, tempat deposisi semen saat kawin alam (sapi, kambing, domba), saluran kelahiran
Vulva
Lubang luar (eksterior) saluran reproduksi

BAB V
DAFTAR PUSTAKA






Frandson.R.D. 1986, Anatomi dan fisiologi ternak. Yogyakarta:
                                        Gadjahmada university press.

   Siregar. Tongku N. 2006, Fisiologi Reproduksi Hewan Betina. Banda Aceh :
                                               Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah